Setelah perdebatan itu, akhirnya semua setuju untuk tetap mematuhi keputusan Uban. Malam itu, perahu-perahu mulai didorong ke air. Penduduk suku yang terpilih untuk misi ini melangkah masuk dengan wajah tegang, sementara yang lain mengucapkan doa untuk keberhasilan mereka.

Ayunga berdiri di depan, menatap sungai dengan mata penuh tekad. “Aku akan menyelamatkanmu, Jelita. Aku bersumpah.”

Di sudut dermaga, Gahara menyeringai licik sambil melirik ke arah seorang pria yang menyelinap ke dalam hutan untuk memberikan laporan terakhir kepada perampok.

Malam di perkampungan perampok terasa berbeda. Biasanya, malam di sana diisi dengan tawa keras, mabuk-mabukan, dan pertengkaran kecil di antara mereka. Namun, malam ini, ada kesibukan yang tidak biasa.

Lentera-lentera minyak digantung lebih banyak dari biasanya, menerangi area yang luas. Para perampok berbaris dengan senjata mereka—tombak tajam dari tulang hewan, kapak batu yang besar, dan busur dengan anak panah bertanda bulu burung eksotis. Mereka bergerak dalam formasi, mengikuti perintah pemimpin regu masing-masing.

Di pusat perkampungan, seorang pria tinggi dengan bekas luka melintang di dahinya berdiri di atas panggung kayu kecil. Dialah Kronar, pimpinan perampok yang baru saja mendapat informasi dari tetua pengkhianat. Wajahnya dingin, matanya menyapu para anak buahnya yang sedang bersiap.

“Kalian tahu apa yang harus dilakukan,” kata Kronar dengan suara berat, menggema di seluruh halaman. “Suku Yaksa akan menyerang lewat sungai. Kita akan membuat mereka menyesal melawan kita. Tidak ada belas kasihan.”

Para perampok bersorak dengan suara gemuruh. Kronar melanjutkan, “Pisahkan penjagaan. Sebagian besar harus ditempatkan di tepi sungai. Sisanya, tetap berjaga di kamp dan awasi para tahanan. Jangan biarkan ada penyusup masuk atau ada yang melarikan diri...”

Para perampok mengangguk, beberapa tersenyum licik, sementara yang lain menyiapkan perangkap di sepanjang sungai. Mereka memasang jaring-jaring besar di bawah air untuk menjebak perahu-perahu Yaksa. Beberapa orang bersenjatakan tombak dan panah mengintai di sepanjang tepi sungai, siap menyerang kapan saja.

Di salah satu sudut kamp, sebuah bangunan kokoh tampak dikelilingi oleh penjaga ekstra. Itu adalah penjara tahanan, tempat orang-orang ditahan oleh perampok, termasuk tetua Ayunga jika mereka tertangkap. Para perampok berkumpul dalam kelompok-kelompok kecil, mendiskusikan strategi mereka sambil mengasah senjata.

Kronar berdiri di sebuah jembatan kayu kecil, melihat ke arah sungai dengan senyum puas. "Biarkan mereka datang," katanya kepada anak buahnya. "Hari ini, kita tunjukkan siapa yang menguasai pulau ini."

Sementara itu di dalam tahanan perkampungan perampok, Di dalam ruangan pengap itu, Lynx duduk bersandar pada dinding kayu, tangan dan kakinya masih terikat dengan tali tebal. Namun, wajahnya tetap tenang, tatapan matanya fokus seperti sedang menganalisis situasi. Jelita duduk tak jauh darinya, tubuhnya yang terasa lemas mulai pulih setelah Lynx menyalurkan energi saktinya, luka-lukanya mulai membaik.

"Sebenarnya siapa kamu? Apa yang kamu lakukan sehingga tubuhku terasa begitu bertenaga dan luka-lukaku terasa berkurang sakitnya?" Tanya Jelita dengan penasaran.

Lynx hanya menjawab singkat,"Itu kelebihan yang ku punya."

“Bagaimana kau bisa tetap terlihat tenang dikonsisi seperti ini?” tanya Jelita dengan suara pelan, nyaris berbisik.

Lynx menoleh ke arah Jelita, memberikan senyum tipis. “Karena panik tidak akan membantu. Aku sedang mencari celah untuk keluar.”

Jelita menggigit bibirnya, merasa ragu. “Tapi kau masih terikat. Mereka pasti tidak akan memberimu kesempatan kedua setelah apa yang kau lakukan sebelumnya.”

Lynx mengangguk pelan, seolah mengakui kebenaran kata-kata Jelita. “Tali ini sebenarnya tidak bisa menahanku. Aku bisa dengan mudah memutuskannya, tapi aku harus menghindari kecurigaan mereka. Itulah sebabnya aku harus lebih berhati-hati kali ini.”

Jelita memeluk lututnya, tampak gugup. “Kau tahu? Aku tidak pernah berpikir aku akan bertahan sejauh ini. Setelah hari-hari disiksa oleh mereka... rasanya seperti keajaiban aku masih hidup.”

Lynx menatapnya dengan serius. “Kau kuat, Jelita. Itulah sebabnya kau bertahan. Dan aku berjanji, kita akan keluar dari tempat ini bersama-sama.”

Jelita tertawa kecil, nada getir terdengar jelas. “Bagaimana kau bisa begitu yakin? Mereka mengurung kita dengan ketat. Bahkan jika kau berhasil melawan, aku hanya akan menjadi bebanmu.”

Lynx menggeleng perlahan. “Jangan pernah meremehkan dirimu sendiri. Kau sudah melalui banyak hal. Itu membuktikan kekuatanmu.”

Jelita menatap Lynx dalam diam untuk beberapa saat. Ada rasa kagum dan keheranan di matanya. “Aku tidak mengerti, bagaimana mungkin seseorang seperti kau, yang bahkan masih terikat seperti ini, bisa begitu percaya diri?”

Lynx menatap ke arah tali yang mengikatnya. “Kepercayaan diriku datang bukan dari situasi ini, tapi dari apa yang aku perjuangkan. Aku tidak bisa membiarkan mereka menang, Jelita. Tidak hanya karena kita, tapi juga orang-orang lain yang menjadi korban mereka.”

Tiba-tiba, suara gaduh terdengar dari luar. Beberapa penjaga sedang berdebat keras, diselingi dengan langkah-langkah tergesa-gesa. Lynx memiringkan kepalanya sedikit, mencoba mendengar lebih jelas.

“Ada apa?” tanya Jelita, suaranya dipenuhi rasa takut.

“Mereka bersiap untuk sesuatu,” jawab Lynx singkat. Ia mengernyit, mencoba menangkap lebih banyak detail dari percakapan para penjaga.

“Apakah kau pikir itu tentang kita?” tanya Jelita lagi, tubuhnya tegang.

Lynx mengangguk pelan. “Bisa jadi. Mereka tidak akan membiarkan kita tetap di sini tanpa rencana.”

Setelah beberapa saat, Lynx menoleh ke arah Jelita, suaranya rendah tapi tegas. “Dengar, aku butuh bantuanmu. Ini kesempatan kita.”

Jelita tampak bingung. “Bantuan? Aku bahkan tidak bisa berdiri dengan tegap, apalagi melawan mereka.”

“Aku tidak membutuhkanmu untuk melawan,” kata Lynx sambil tersenyum kecil. “Aku hanya butuh kau tetap tenang. Ketika waktunya tiba, ikuti setiap arahanku tanpa ragu.”

Jelita menelan ludah, masih merasa ragu. “Tapi bagaimana jika aku gagal?”

“Kau tidak akan gagal,” jawab Lynx dengan penuh keyakinan. “Percayalah padaku.”

Lynx mulai mengamati tali yang mengikat tangannya. Ia menarik sedikit pergelangan tangannya, mencoba mengukur kekuatan ikatan tersebut. Kemudian ia melihat ke sekeliling ruangan, memperhatikan setiap sudut, memikirkan rencana pelarian mereka.

“Apa yang sedang kau lakukan?” tanya Jelita dengan nada penuh rasa ingin tahu.

“Mencari celah,” jawab Lynx sambil terus memeriksa ruangan. “Aku harus memikirkan rencana yang tepat untuk kita memanfaatkan situasi ini tanpa membahayakan tahanan lainnya.”

Jelita memperhatikan Lynx dengan seksama, perlahan rasa takut di wajahnya tergantikan oleh sedikit harapan. Meskipun mereka masih terjebak, ada sesuatu dalam cara Lynx berbicara dan bertindak yang membuatnya percaya bahwa mereka benar-benar bisa keluar dari situasi ini.

“Kita akan keluar dari sini,” kata Lynx lagi, lebih kepada dirinya sendiri. “Dan ketika kita keluar, kita pastikan mereka tidak akan pernah melakukan ini lagi pada orang lain.”

Jelita mengangguk pelan, akhirnya merasa sedikit lebih tenang. Dalam hati, ia berharap Lynx benar. Bahwa mereka benar-benar bisa keluar dari neraka ini.

Malam mulai menjelang ketika perahu-perahu kecil suku Yaksa meluncur tenang di sungai. Cahaya bulan purnama memantulkan kilauan ke perairan yang gelap. Ayunga berdiri di perahu depan, wajahnya penuh tekad, sementara pemuda yang membawa informasi tentang keberadaan Jelita duduk di depannya, menunjuk arah. Di belakangnya, kepala suku Uban memimpin barisan, mengatur strategi dengan suaranya yang rendah namun tegas.

“Ketika kita mendekati markas, semua harus tetap tenang,” ujar Uban sambil menatap para pemuda yang mendayung. “Jangan ada suara yang membuat mereka curiga. Kita tidak di sini untuk bertarung, melainkan untuk menyelamatkan Jelita.”

Ayunga menoleh, matanya menyipit tajam. “Tapi jika mereka menyerang lebih dulu, kita harus siap. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh anak buah kita.”

Seorang pria muda di perahu belakang memanggil dengan suara cemas, “Tetua, bagaimana kita memastikan mereka tidak mengetahui rencana kita? Mereka punya penjaga di mana-mana.”

Ayunga menarik napas dalam, menatap pemuda itu dengan tajam. “Itulah mengapa kita bergerak malam ini. Air adalah sekutu kita. Sungai ini adalah rumah kita. Kita akan menggunakannya untuk keuntungan kita.”

Uban menyela, wajahnya tegang. “Tapi jangan lupa. Mereka juga tahu sungai ini. Tetap waspada, dan jangan terlalu percaya diri.”

